Battle in Seattle (2007)


Kehadiran World Trade Organization (WTO) dalam hubungan antar negara memang menimbulkan pro dan kontra. WTO adalah realisasi dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1948. GATT sebenarnya bukan merupakan sebuah organisasi yang rigid layaknya WTO sekarang, karena memang itu hanya merupakan sebuah persetujuan dari beberapa negara yang ingin mengatur perdagangan lintas negara yang terjadi diantara mereka. 

Dalam beberapa tahun perkembangannya, negara-negara yang menjadi inisiator terbentuknya GATT menginginkan adanya sebuah organisasi yang lebih terstruktur agar tujuan dibuatnya GATT dapat tercapai dengan lebih sistematis. 

Pada awalnya, negara-negara pihak dalam GATT akan membuat organisasi yang bertajuk International Trade Organization (ITO), tetapi perundingan-perundingan yang terjadi antara mereka tidak berhasil membuahkan hasil terbentuknya ITO sebagai organisasi perdagangan antar-negara, karena Amerika Serikat (AS) menolak traktat yang telah disepakati. Gagalnya ITO menjadikan GATT tetap sebagai sebuah “organisasi” yang mengatur tentang perdagangan internasional.

Pada akhirnya, terbentuklah WTO di tahun 1995 dan melanjutkan tugas-tugas yang sebelumnya dijalankan oleh GATT. Saat melaksanakan Konferensi Tingkat Menteri Ketiga (Third Ministerial Conference) pada tahun 1999 di Seattle (AS), WTO mendapatkan resistensi yang luar biasa massif dari elemen-elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam berbagai non-governmental organization (NGO). 

Tak hanya dari NGO, WTO juga dikritik oleh negara-negara dunia ketiga yang belum merasakan keuntungan yang berarti dengan keikutsertaan mereka di WTO. Demonstrasi massal yang terjadi di Seattle inilah yang kemudian menjadi dasar dibuatnya film “Battle in Seattle”. Film ini menggambarkan proses yang terjadi di Seattle sebelum pelaksanaan Konferensi hingga beberapa hari sesudahnya.

Film diawali dengan scene pemasangan spanduk bertuliskan DEMOCRACY (dalam panah menunjuk ke arah kanan), dan WTO (dalam panah menunjuk arah kiri), yang bisa diartikan kurang lebih bahwa WTO adala organisasi anti-demokrasi yang hanya memberikan kesempatan bagi negara-negara industri maju. 

Kemudian cerita memfokuskan diri pada empat orang aktivis, Jay, Lou, Sam dan Django. Dengan latar belakang aktivisme yang berbeda, mereka bersatu dalam unjuk rasa menentang WTO. Persiapan yang mereka lakukan selama enam bulan akhirnya membuahkan hasil awal, ketika acara pembukaan Konferensi berhasil digagalkan karena para aktivis memblokir semua akses menuju gedung pelaksanaan. Pemerintah kota tidak bisa melakukan apapun, karena para aktivis tetap berpegang pada janjinya untuk melakukan unjuk rasa damai yang tidak anarkis.

Tetapi kondisi demikian tidak berlangsung lama, karena polisi diberikan kebijakan untuk menyemprotkan gas air mata ke arah aktivis yang sedang berunjuk rasa. Kondisi ini akhirnya memicu reaksi dari aktivis yang lebih besar, terutama dari golongan anarkis yang merusak berbagai toko. Ekskalasi konflik akhirnya semakin besar dan membuatnya menjadi seperti perang sipil di Seattle. 

Kerusuhan melanda seluruh kota, rapat-rapat konferensi tidak berlangsung lancar, dan demonstrasi tetap berjalan di sana-sini meskipun bersifat sporadis. Puncaknya, polisi diperintahkan untuk menangkap semua aktivis yang sedang berunjuk rasa dengan cara duduk di jalanan. Sekitar puluhan orang ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi semua aktivis tersebut dilepaskan beberapa hari kemudian, yang diikuti dengan gagalnya konferensi WTO.

Dramatisasi dalam sebuah film drama adalah hal yang wajar, dan dapat diterima akal sehat, karena disitulah letak hiburannya. Tetapi hal yang menonjol dalam film ini bukanlah sisi dramatisasi yang dibangun, melainkan deskripsi tentang bagaimana elemen-elemen yang ingin merubah tatanan dunia bekerja di jalur yang berbeda dan tentunya dilatarbelakangi dengan alasan yang berbeda pula. Ditambah orang-orang lain yang tidak mengerti akan masalah politik ekonomi internasional, tetapi harus tetap menjalankan tugasnya. 

Meski film ini menekankan ceritanya pada empat orang aktivis, namun ada beberapa tokoh lain yang turut digambarkan yang juga menjadi unsur penting dalam desain besar perlawanan terhadap ketidakadilan. Ada seorang dokter dari NGO Doctors Without Borders, yang berusaha menghimbau kepada industri-industri farmasi untuk mau menurunkan harga dan memberikan alih teknologi atas obat-obatan yang dibuat kepada negara-negara Dunia Ketiga, yang tidak direspon secara positif oleh industri farmasi dari negara-negar maju. 

Ada juga pemimpin dari negara Afrika yang berusaha memasukkan agenda mengenai negara-negara berkembang, yang kemudian ditolak karena ada perubahan agenda secara mendadak. Ada pula polisi yang diharuskan menangkap para aktivis, karena perintah dari pejabat-pejabat terkait, meski mereka tidak mengerti alasannya.

Elemen-elemen itulah yang memang nyata terjadi pada saat ini. Negara maju yang disokong oleh perusahaan-perusahaan multinasional, aktivis yang berjuang di jalanan, profesi-profesi yang mencari jalan lebih halus, pemimpin-pemimpin negara dunia ketiga, dan orang yang hanya ingin hidup bahagia dan sejahtera. 

Disinformasi memang telah menjadikan WTO sebagai sebuah jalan menuju kesejahteraan, dan sialnya hal ini dipercayai oleh golongan orang yang tidak mengambil pusing dengan tetek-bengek politik ekonomi internasional. Golongan ini dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk mendukung mengguritanya usaha mereka. 

Perjuangan akhirnya hanya bisa dijalankan oleh para aktivis, organisasi profesi, dan negara-negara berkembang. Karena mereka sadar bahwa ketika sistem WTO masih berjalan seperti sekarang, kesejahteraan yang diagung-agungkan oleh WTO tidak akan pernah terwujud di muka bumi. Yang justru terjadi adalah kesenjangan yang semakin tajam antara Utara dan Selatan.

Seperti yang kita tahu, WTO hampir tidak memberikan apa-apa untuk negara berkembang, misalnya Indonesia. Dengan sumber daya manusia yang terbatas, teknologi yang terbatas, dan kapital yang juga terbatas, Indonesia dipaksa bersaing dengan negara-negara maju dalam hal perdagangan. 

Prinsip anti-dumping, national treatment, dan most-favoured nation hanya berlaku bagi negara-negara berkembang, sementara negara maju tetap menikmati segala bentuk subsidi. Tetapi meski protes telah berjalan sekian lama dalam taraf yang massif, kekuatan WTO dalam mempropagandakan There Is No Alternative tetap memiliki kekuatan. 

Keinginan sang pembuat film untuk mewujudkan Another World Is Possible (dengan menampilkan berbagai cuplikan demonstrasi pasca Seattle) memang patut mendapat acungan jempol, dan sebagai bagian dari negara berkembang yang telah dimarjinalisasikan, usaha mewujudkan Dunia Lain harus tetap berada dalam pikiran kita semua. Mungkin dulu kita menderita dibawah kolonialisme Belanda, namun sekarang kita menderita dibawah penjajahan ekonomi perusahaan-perusahaan multi nasional dan negara industri maju.

ANOTHER WORLD IS REALLY POSSIBLE !!!

Comments