Apocalyptica

Ingin merasakan kolaborasi sesungguhnya dari musik klasik dan musik metal? Apocalyptica adalah jawabannya.

Mungkin kita semua pernah mengapresiasi album S&M karya Metallica yang berkolaborasi dengan San Fransisco Symphony Orchestra arahan Michael Kamen. Album itu menghentak dunia karena kolaborasi yang tidak biasa antara Metallica yang merupakan mbah-nya heavy metal, dengan instrumen yang biasa dikenal dalam musik metal : gitar elektrik, bass elektrik, dan drum); dengan sebuah orkestra simfoni yang lebih sering memainkan karya-karya klasik.

Namun jauh sebelum S&M dirilis, Apocalyptica telah melangkah jauh dari sekedar kolaborasi, karena langsung menggunakan instrumen yang lekat dengan musik klasik, yaitu “cello”.

Apocalyptica telah menabrak stigma orang mengenai grup heavy metal yang selalu dicirikan dengan gitar elektrik full-distortion, hentakan bass, dan ketukan drum yang cepat. Keempat orang dalam Apocalyptica justru meninggalkan semua instrumen “tradisional” dalam musik metal, dan menggunakan instrumen cello sepenuhnya dalam karya-karya yang dimainkan.

Pada awalnya, mereka “hanya” memainkan memainkan lagu-lagu Metallica. Meski cover-version, tetap saja diperlukan upaya ekstra untuk mentransfer aransemen Metallica yang sangat penuh, ke dalam format kuartet dengan instrumen yang sama. Hasilnya dapat didengarkan pada album pertama mereka yang diberi judul “Plays Metallica by Four Cellos”.

Ketika saya baru saja mendengarkan Apocalyptica atas saran seorang kawan, kuping terasa diperas-peras, karena mendengarkan karya yang sudah begitu lama tertanam kuat dalam memori dengan versi baru dan suara yang asing. Seperti ada sesuatu yang kurang dan tidak pas ketika pertama kali mendengarkan Apocalyptica.

Namun lama kelamaan, perasaan janggal itu justru semakin terkikis dengan kecanduan untuk mendengarkan lagi. Karena secara faktual, musik metal tidak hanya nikmat untuk didengarkan dengan instrumen “tradisional”, dan menjadi lebih beragam karena upaya yang dilakukan oleh Apocalyptica.

Ternyata, Apocalyptica tak hanya piawai dalam membawakan lagu-lagu Metallica, karena karya-karya mereka sendiri tak kalah “metal” jika dibandingkan dengan grup-grup pendahulunya. Coba saja dengarkan album kedua mereka yang berjudul Inquisition Symphony.

Dengan tetap menyelipkan beberapa cover-version Metallica, komposisi berjudul “Harmageddon”, “From Out Of Nowhere”, “Inquisition Symphony”, dan lainnya mampu membuat telinga ini semakin penasaran dengan apa yang akan dimainkan selanjutnya.

Apocalyptica meruntuhkan batas-batas antara musik klasik dan metal yang selama ini selalu dianggap berseberangan. Tak hanya di komposisi, penampilan live mereka pun tak kalah “metal” dengan grup-grup yang lebih tua.

Tanpa memegang cello dan bow, mereka tampak sama saja seperti Metallica ataupun Sepultura, dengan rambut gondrong, wajah sangar, dan tubuh bertato. Ketika mereka tampil di panggung, attitude dan gaya bermain mereka tak ada bedanya juga dengan grup metal lain, karena dengan cello, mereka tetap melakukan headbang. Meski dalam beberapa lagu, mereka bermain dengan duduk layaknya seorang cellist dikenal dalam sebuah chamber ataupun orkestra.

Belakangan, Apocalyptica menambah lagi satu personelnya, yaitu pemain drum. Menurut saya, langkah ini memang tepat, karena menambah power dari lagu-lagu Apocalyptica. Sebagai contoh, coba bandingkan komposisi “Inquisition Symphony” versi album dengan versi live yang menggunakan drum. Menurut saya versi live dengan menggunakan drum dari komposisi tersebut, memiliki power yang jauh lebih mengangkat dan lebih mengajak penonton untuk ber-headbang dan membuat mosh pit.

Di album yang paling terakhir, Apocalyptica membuat eksperimen yang lebih luas, misalnya menggunakan sampling dan membuat komposisi yang menyertakan vokal di dalamnya. Dengan adanya eksperimen ini, Apocalyptica membuat musiknya lebih luas dan jauh lebih beragam dibandingkan dulu, tanpa harus menurunkan kadar “metal” yang dimilikinya.

Salah satu albumnya, minimal salah satu komposisi mereka harus anda dengar, untuk memperkaya warna musik yang kita apresiasi, yang telah dimonopoli dan diseragamkan melalui musik pop melayu dengan lirik dangkal dan garapan musik seadanya.

Comments