Dewa Budjana - Gitarku : Hidupku, Kekasihku

Saya telah menjadi penggemar I Gde Dewa Budjana, yang akrab dipanggil Budjana semenjak kelas 2 SMP. Pada saat itu saya melihat album solo Budjana yang bertajuk Nusa Damai pada toko kaset di pasar dekat rumah. Album itu sangat membuka wawasan telinga saya yang sebelumnya hanya dicekoki musik punk rock dan hip-metal, sekaligus menyemangati saya untuk semakin menekuni instrumen gitar.

Album itu memang sangat berkesan, karena ketika saya melihat penampilan Budjana sebagai gitaris GIGI, saya berpendapat tidak ada yang istimewa dari seorang Budjana, dan album Nusa Damai membalikkan opini saya 180 derajat. Saya pun menjadi pembaca rutin dari Klinik Gitar yang diasuh oleh Budjana dalam sebuah tabloid musik MUMU (yang hingga saat ini tidak ada penerusnya).

Album-album berikutnya dari Budjana terus saya ikuti, dan tentunya saya sarankan untuk dikoleksi bagi mereka yang mencintai musik dan musikus Indonesia. Ketika Budjana mengeluarkan bukunya yang berjudul “Gitarku : Hidupku Kekasihku”, saya tidak langsung membelinya, karena entah kenapa saya selalu enggan untuk membelinya, meski keuangan tak menjadi masalah. Di Gramedia Fair minggu lalu, saya menemukan buku itu sebagai bagian dari deretan diskon, dan saya langsung membelinya.

Sekedar intermezzo, semenjak saya menekuni musik, khususnya instrumen gitar, saya tidak pernah menemukan produk buku maupun video karya musikus lokal yang layak untuk dikonsumsi. Yang saya lihat hanyalah buku-buku yang menghimpun berbagai macam kord (padahal saya dapat dengan mudah menemukannya di internet), ataupun trik-trik untuk bermain gitar dengan instan (padahal tidak ada itu yang namanya belajar gitar secara instan).

Akhirnya saya pun berpaling pada produk-produk karya musikus asing, yang menurut saya memberikan informasi yang jauh lebih bermanfaat, baik itu melalui buku-buku ataupun video-video. Pesimisme inilah yang sedikit banyak mempengaruhi saya untuk menunda pembelian buku+video karya Budjana pada awalnya. Namun pembelian buku Budjana ini menghilangkan pesimisme saya, dan saya justru menyesal tidak membelinya semenjak dulu.

Buku ini memberikan informasi yang sangat menyeluruh tentang Budjana, mulai dari keputusanya untuk menekuni instrumen gitar, awal kariernya di berbagai grup musik, hingga akhirnya berlabuh di GIGI hingga saat ini sekaligus menjalani proyek solo albumnya. Tetapi bagian yang menjadi favorit saya adalah “Gitarku” dan “Musikku” (keduanya berkaitan dengan DVD yang menjadi tambahan).

Pada bagian “Gitarku”, Budjana menjelaskan bagaimana setting gitar dan efek yang dia pakai ketika konser bersama GIGI ataupun ketika memainkan karya-karya solonya. Penjelasan ini memberikan sebuah wawasan baru bagi saya, setelah bertahun-tahun hanya bermain dengan sistem “todong”, dan paling canggih hanya menggunakan sebuah multi-effects yang langsung masuk ke amplifier ataupun mixer.

Memang saya pernah membaca liputan mengenai gitaris di berbagai majalan dan tabloid, yang sekaligus mendeskripsikan setting gitar yang dipakai. Namun dengan adanya bonus DVD dalam buku ini, setting gitar Budjana yang digambarkan dalam buku itu menjadi lebih jelas.

Saya, akhirnya, mengetahui bagaimana sistem rack berfungsi untuk menghasilkan suara yang khas, dan tentunya hardware-hardware tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas suara gitar. Saya pun mengetahui alasan-alasan mengapa Budjana memilih gitar dengan merek ataupun model tertentu.

Meski tidak semua gitar yang ada di buku ditampilkan pada DVD, namun gitar-gitar yang paling sering Budjana gunakan tetap muncul di video. Sedangkan dalam bagian “Musikku”, Budjana menjelaskan bagaimana setting gitar dan efek digunakan dalam karya-karyanya, baik di GIGI maupun album solo. Saya akhirnya mengerti, bagaimana Budjana dapat menghasilkan sound gitar yang khas dan sulit ditiru.

Tidaklah berlebihan apabila pujian-pujian dilayangkan oleh berbagai gitaris untuk Budjana dan buku ini. Buku ini memang telah memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi dunia musik Indonesia, karena kualitasnya yang tidak kalah dengan karya impor. Buku ini juga menepis pendapat musikus seperti saya, yang menganggap buku gitar karya musikus Indonesia hanya cocok untuk menjadi pengganjal lemari yang goyang.

Kalau anda mengaku musikus/gitaris ataupun hanya sekedar menjadi penikmat dari GIGI dan karya solo Budjana, buku+DVD ini menjadi karya yang layak untuk dikoleksi.

Comments