Dogma (1999)


Dogma (1999)

SPOILER ALERT!!

Saya melihat film ini secara tak sengaja di sebuah situs penyedia tautan film yang dapat diunduh secara gratis. Pada awalnya, saya mengira film ini adalah film horror-semi-supernatural-semi-relijius seperti Stigmata atau End Of Days. Tetapi ketika melihat informasi singkat di Internet Movie Database (IMDB) dan Wikipedia, saya terkejut ketika mengetahui film ini malah terkategori sebagai film komedi.

Film komedi tentang agama dan ketuhanan? This is gonna be good.

Dogma bercerita tentang seorang pekerja di klinik aborsi, Bethany Sloane (Linda Fiorentino), yang ditugaskan oleh Metatron (“The Voice of God”, Alan Rickman) untuk mencegah dua malaikat kembali ke surga. Kedua malaikat ini, Bartleby (Ben Affleck) dan Loki (Matt Damon) mendapatkan hukuman dari Tuhan karena lalai menjalankan tugasnya. Hukumannya bukanlah berganti sisi ke neraka dan memihak Lucifer, tetapi selamanya berada di Bumi dan tak bisa kembali ke surga.

Malaikat-malaikat ini kemudian menemukan "loophole" dalam dogma Katolik, yang dapat membuat mereka kembali ke surga. Sayangnya, celah yang akan mereka manfaatkan, akan membuat dunia musnah. Karena celah ini menegasikan sifat Tuhan yang "tak dapat gagal".

Upaya pencegahan ini tentunya menemukan hambatan. Apalagi kedua malaikat itu didukung oleh Azrael (Jason Lee) dari pihak Lucifer dan ketiga anak buahnya.

Bethany sempat meragukan tugas yang diembannya, karena ia merasa tidak relijius. Apalagi pekerjaannya di klinik aborsi membuatnya semakin jauh dari isu-isu keagamaan. Namun dengan bantuan dua "nabi" yang diinformasikan Metatron, Rufus (Chris Rock)--seorang murid Yesus ke-13--yang mengklaim dirinya tidak tercatat dalam Alkitab karena berkulit hitam—dan mengklaim Yesus pun berkulit hitam, dan Serendipity (Salma Hayek)--seorang Muse--yang bertugas sebagai inspirasi.

Upaya ini akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, Tuhan sendiri--yang ternyata berwujud wanita--langsung hadir saat kedua malaikat itu digagalkan oleh Linda untuk kembali ke Surga.

Well, well, well...

Saya selalu menyukai film komedi satir. Terutama yang mengambil agama dan ketuhanan sebagai isu sentralnya. Apalagi ketika film itu berusaha untuk melawan paradigma yang telah diterima secara umum. Misalnya, Tuhan yang selalu diidentifikasikan sebagai pria (He, His, Him)--di wilayah dengan kosakata yang mengenal perbedaan vokabulari feminin dan maskulin--justru digambarkan sebagai seorang wanita.

Ya, tentu kita tidak bisa menentukan jenis kelamin dari Tuhan. Tapi sungguh mengherankan ketika manusia, dengan ketidakmampuannya itu, justru menyatakan Tuhan sebagai pria dan menafikan kemungkinan Tuhan sebagai wanita. Penyebutan Tuhan sebagai pria di berbagai wilayah dan agama, telah mengabaikan peran wanita, dan tentunya menjadi bias gender.

Padahal, kalau kita sadari, berbagai sebutan yang kita dengar sehari-hari justru menggunakan istilah "ibu" bukannya "bapak". Jempol adalah IBU jari, bukan BAPAK jari. Negara atau provinsi, memiliki IBU kota bukan BAPAK kota. Bahkan dunia komputer pun mengenal MOTHER board, bukan FATHER board.

Film dengan bentuk seperti ini seakan menjadi oase di tengah negara dengan kadar kemunafikan yang sangat tinggi, Indonesia. Di Indonesia, agama seakan menjadi barang yang begitu haram untuk ditertawakan. Semua orang harus memiliki agama, dan mencantumkannya di dalam KTP--sebuah hal yang sangat tidak urgen jika dibandingkan dengan, sebagai alternatif, pencantuman golongan darah.

Negara menentukan agama-agama mana saja yang boleh disebarkan di Nusantara ini. Sehingga menegasikan bentuk-bentuk agama lain, entah itu yang lahir dari perkembangan masyarakat adat lokal Indonesia, ataupun agama-agama yang muncul dari luar wilayah Nusantara. Masyarakat "dipaksa" untuk memeluk satu dari enam agama yang diakui secara "resmi". Kondisi ini diperparah dengan kemunafikan melalui SKB menteri yang membuat pendirian rumah ibadah harus didukung dengan adanya izin--hal yang sangat bodoh, karena kenyataannya pendirian rumah ibadah agama tertentu tak memerlukan izin sama sekali.

Yang lebih menyebalkan, sekelompok orang yang membawa nama agama dalam organisasinya, membubarkan berbagai acara lintas keagamaan, bahkan acara agama tertentu. Mereka merasa dirinya sebagai "malaikat" yang berhak untuk menghakimi orang yang tidak beridentitas sama seperti dirinya, dan bertindak seperti aparat yang memiliki kewenangan yang dimandatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Film-film seperti ini hendak mengajarkan, bahwa agama sebagai label, tidaklah perlu dianggap terlalu serius. Apalagi menjadi alasan utama perpecahan di dalam masyarakat itu sendiri. Konsep agama dan ketuhanan adalah sesuatu yang bersifat personal. Tidak ada ide utama yang bisa diterapkan dengan cara yang sama kepada setiap orang. Dengan demikian, tidak ada satupun orang yang berhak untuk melarang pihak lain memeluk agama tertentu, ataupun melaksanakan ibadah sesuai agamanya--hal yang secara eksplisit dicantumkan dalam konstitusi Indonesia, dan ironisnya, secara eksplisit pula dilanggar oleh Negara.

Film ini pun hendak mengajarkan, seandainya kita percaya pada eksistensi Tuhan--yang mana, tidak semua orang bisa menerima ide ini--tak selayaknya eksistensi itu dibatasi oleh ritual-ritual, dan organisasi keagamaan. Tentu sudah kita ketahui, ritual dan organisasi itu adalah ciptaan manusia, yang tak lepas dari kesalahan. Lebih jauh, ritual dan organisasi itu tak jarang merupakan hasil dari kekuasaan yang hendak melanggengkan kekuasaannya lebih lama.

Sayangnya, film seperti ini akan mendapatkan resistensi yang sangat tinggi di negara munafik ini. Dengan mengklaimdirinya sebagai orang yang paling beragama dan paling relijius, banyak pihak merasa berhak untuk menyatakan film ini tidak layak tampil, bersifat penghinaan, kafir, hingga tuduhan pemurtadan.

Jika kita tak bisa menertawakan kepercayaan atau agama yang kita anut secara personal, toleransi antar umat beragama hanya akan menjadi ide utopis yang entah kapan akan terwujud--dan kampanye yang menampilkan kebencian akan terus berlangsung.

Director : Kevin Smith | Starring : Ben Affleck, Matt Damon, Chris Rock, Alan Rickman, Linda Fiorentino, Salma Hayek, Alanis Morrissette | Release Dates : 12 November 1999 | Running Time : 130 minutes

Comments