Tanda Tanya (2010)

Sebagai bangsa yang meletakkan dirinya di “timur”, Indonesia seringkali membuat pembenaran untuk menabukan sesuatu. Membicarakan agama, seks, suku, dan lainnya, seakan haram. Senjata utamanya, “Kita adalah orang timur. Harus menjaga norma-norma dan nilai-nilai.”

Masalah “timur” atau “barat” adalah hal lain. Yang nampaknya asik untuk dibicarakan adalah agama. Dengan kelamin Indonesia yang tak jelas, isu agama memang seksi. Seksi yang di satu sisi menguntungkan, tetapi juga bisa mematikan.

Hal inilah yang nampaknya ingin diangkat oleh Hanung Bramantyo. Melalui film “?” (Tanda Tanya), Hanung mengangkat isu perbedaan agama dalam masyarakat.

Film Tanda Tanya diawali dengan adegan penusukan Pastur di depan gereja, oleh seorang yang tidak dikenal. Tragedi ini kemudian dikecam oleh Walikota Semarang, yang menyatakan bahwa tidak ada unsur sentimen negatif keagamaan dalam kasus penusukan itu. Kasus itu sepenuhnya adalah kejahatan.

Kemudian, film ini bercerita mengenai tiga keluarga, yang masing-masing berbeda agama. Keluarga Rika, perempuan yang baru saja pindah dari Islam menjadi Katolik. Ia bercerai dari suaminya, dan menjadi single parent untuk anak laki-lakinya. Tetapi, anak laki-lakinya masih beragama Islam, bahkan masih rutin belajar membaca Al-Quran.

Keluarga Tan Kat Sun beragama Konghucu, yang memiliki restoran masakan Cina. Tentunya restoran ini menjual sajian yang mengandung babi. Tetapi, mereka tetap menjual masakan yang tidak mengandung babi, yang proses memasaknya dipisah, mulai dari wajan hingga sendok-garpu. Malah beberapa pegawainya beragama Islam.

Keluarga Soleh, yang merupakan muslim taat. Soleh, sang kepala keluarga, memiliki permasalahan dengan statusnya sebagai pengangguran. Belakangan, dia diterima sebagai salah satu anggota GP Ansor Nahdlatul Ulama.

Ketiga keluarga ini berinteraksi di salah satu sudut kota Semarang. Kebetulan, di wilayah mereka terdapat masjid, gereja, dan klenteng. Film ini kemudian menceritakan bagaimana masing-masing individu berurusan dengan agamanya dan pandangan masyarakat terhadapnya.

Upaya Hanung ini bukan hal yang baru. Upaya serupa pernah dilakukan penggiat sineas independen melalui film “Cin(t)a”, di tahun 2009. Bedanya, Hanung mengangkat isu ini ke arah yang lebih luas. Karena dia menyorot bagaimana hubungan berbeda agama antara individu dengan masyarakat, bukan seperti “Cin(t)a” yang lebih menekankan pada hubungan cinta dua individu.

Hal ini, dapat dilihat dari karakter Rika, yang pindah agama menjadi Katolik. Dia dijauhi oleh orang tuanya, bahkan sempat bertengkar kecil dengan anak laki-lakinya. Lain hal dengan Engkoh Tan, yang beragama Konghucu, dan memiliki pegawai beragama Islam. Dia berupaya menunjukkan bahwa umat berbeda agama bisa bertoleransi satu sama lain.

Meski mengangkat isu perbedaan agama, dan bermaksud sangat baik, tetapi Hanung luput untuk mengelaborasi beberapa hal. Yang menurut saya, bisa membuat orang menjadi salah paham, dan mengabaikan nilai baik yang diusung oleh Hanung.

Pertama, alasan Rika untuk pindah agama. Sebagai elemen yang penting, seharusnya hal ini digali sedikit lebih banyak. Apa kejadian yang menjadikan Rika untuk pindah agama, atau titik tertentu yang menjadi sangat substansial. Sayangnya, Hanung hanya menunjukkan adegan ketika Rika memeluk anaknya sambil menangis, dan suaminya menyatakan bahwa dia mencintai wanita lain. Adegan itu bisa saja disalahartikan, Rika berpindah agama hanya karena suaminya selingkuh, atau tidak rela dipoligami, atau alasan lain. Sampai akhir film, masih belum jelas mengapa sesungguhnya Rika berpindah agama.

Kedua, alasan Hendra untuk berpindah agama pun tidak elaboratif. Dia memilih untuk menjadi Islam sesudah ayahnya meninggal. Padahal ayahnya sekarat karena dipukul Soleh secara tak sengaja. Dan visualisasi kepindahan Hendra, hanya karena dia melihat anak-anak yang sedang belajar membaca Al-Quran.

Ketiga, penggambaran Katolik dan Konghucu yang menjadi korban. Penusukan pastur di depan gereja, perusakan restoran milik keluarga Engkoh Tan, hingga adanya bungkusan bom di dalam gereja. Dengan demikian, Hanung mengaminkan bahwa tindakan umat Islam masih diskriminatif terhadap umat lain hingga saat ini.

Salah satu yang menarik dalam film ini adalah Agus Kuncoro sebagai Surya. Meski terkesan komikal, tetapi kehadiran karakter ini memberikan hiburan yang tidak norak, bahkan cenderung reflektif.

Sesungguhnya, film ini memang menggambarkan realita Indonesia sehari-hari. Indonesia memiliki kelamin yang tidak jelas, karena posisinya yang tidak tegas mengenai agama. Negara ini bukanlah negara agama, tetapi bukan juga negara sekuler. Negara agama mendasarkan praktik kenegaraannya kepada salah satu agama dan memasukkan nilai-nilai keagamaan dalam hukum positifnya. Negara sekuler memisahkan urusan agama dan kenegaraan, dan agama sepenuhnya menjadi urusan individu warga negara.

Indonesia adalah negara beragama. Tidak ada salah satu agama yang dijadikan dasar kenegaraan. Tetapi tidak ada juga pemisahan yang jelas antara urusan negara dengan agama. Apalagi dengan adanya Kementerian Agama, yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan agama. Termasuk juga dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 & 9 Tahun 2006 yang pasal-pasalnya mengatur soal pembangunan rumah ibadah.

Tetapi, terlepas dari opini saya, upaya Hanung tetap wajib diacungi jempol. Dia ingin mengangkat sebuah isu yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan, perbedaan agama. Perbedaan yang sayangnya seringkali memecah-belah Indonesia. Perbedaan yang justru menegasikan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dipegang erat oleh Sang Garuda.

Sutradara: Hanung Bramantyo | Pemeran: Revalina S. Temat, Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Hengky Solaiman, Endhita, Rio Dewanto | Rilis: 7 April 2011

Comments